18 Agustus 2020 | Agus Gunawan | 8
Oleh : Agus Gunawan
Pokja PKBN2K BPK PENABUR
Apalagi ketika peran yang kita jalani adalah sebagai tenaga pendidik dan kependidikan Kristiani. Menjadi tenaga pendidik dan kependidikan di BPK PENABUR bukan sebuah identitas yang bisa digeneralisasi begitu saja. Tantangan guru Kristiani menjadi lebih berat karena meskipun memiliki tugas dan amanat mencerdaskan siswa, secara jiwa dan raga, seperti guru lain pada umumnya, guru Kristiani juga memiliki tantangan yang lebih mendalam berhadapan dengan keyakinan akan tugas panggilannya. Guru Kristiani tertantang bukan sekadar menjadi guru pada umumnya, melainkan menjadi guru yang mampu meneladan Sang Guru sendiri, yaitu Yesus Kristus, yang oleh para murid disebut Guru dan Tuhan.
Sebagai guru, tampaknya kita mesti jujur, tak banyak ilmu atau bahan pelajaran yang masih diingat siswa dari apa yang kita ajarkan. Justru kepribadian atau karakter atau keunikan kita (sebagai guru) justru yang masih melekat. Kepribadian dan karakter guru serta pengalaman hidup bersama para murid lebih menoreh kesan daripada ilmu pengetahuan atau pelajaran yang kita sampaikan. Oleh sebab itu, konsep PKBN2K dapat dipastikan tidak mungkin terimplementasikan jika guru-guru sendiri tidak menjadi role model atau “agen-agen” pembentuk karakter siswa berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Sehebat apa pun konsep digulirkan jika penghayatan guru akan profesinya terabaikan, maka tidak akan terjadi implementasi dari PKBN2K. Guru-guru di PENABUR harus menghidupi dan menghayati panggilannya sebagai guru, sang sumber inspirasi bagi pembentukan karakter. Mereka adalah role model bagi siswa untuk memahami bagaimana cara mereka memandang kehidupan, memandang masa depan, mempersiapkan masa depan dan mengenal Allah Sang Sumber Kehidupan.