18 Agustus 2020 | Theresia Wijaya, S. Psi. | 6
Oleh: Theresia Wijaya, S.Psi
COVID-19 menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Salah satunya adalah Indonesia. Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama virus COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020. Jumlah kasus orang yang terinfeksi COVID-19 makin meningkat setiap harinya. Beberapa daerah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB yang berawal selama dua minggu menjadi diperpanjang terus-menerus.
Guru-guru melakukan pembelajaran di rumah. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Purwanto, dkk (2020), terdapat beberapa kendala yang dialami oleh guru selama proses belajar mengajar secara online di rumah akibat dari adanya pandemi COVID-19 yaitu penguasaan teknologi masih kurang, penambahan biaya kuota internet, dan jam kerja menjadi tidak terbatas karena harus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang tua, guru lain, dan kepala sekolah.
Guru-guru terpaksa untuk melek teknologi. Guru-guru belajar untuk mengoperasikan berbagai platform pembelajaran seperti zoom, google meet, google classroom, scola, dan membuat video pembelajaran. Jam kerja saat guru di rumah menjadi tidak terbatas karena guru harus mengajar siswa dan tetap melakukan komunikasi dengan orang tua dan kepala sekolah. Guru-guru yang mempunyai anak harus tetap mengajar siswa dari rumah dan membantu anak-anaknya untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, guru harus melakukan kewajibannya sebagai orang tua, seperti memasak, mencuci baju, dan kegiatan lainnya. Banyak kegiatan yang harus dilakukan oleh guru selama masa pandemi ini.
Kewajiban sebagai guru dan orang tua dapat membuat guru menjadi stres. Stres adalah hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dinilai oleh seseorang sebagai tuntutan atau ketidakmampuan dalam menghadapi situasi yang membahayakan atau mengancam kesehatan (Lazarus, 1984). Untuk mencegah stres, ada dua hal yang dapat dilakukan, yaitu membuat jadwal aktivitas dan memberikan reward pada diri sendiri.
Guru dapat membuat jadwal aktivitas pada schedule board atau menggunakan handphone. Guru dapat membagi-bagi waktu yang ada sesuai dengan urgensi dan prioritas pekerjaan. Dengan begitu, pekerjaan akan lebih terorganisir. Jika jadwal ini dijalankan secara konsisten dan disiplin, maka akan sangat membantu kita dalam membentuk "new normal" pada kehidupan kita sehari-hari. Selain peran kita sebagai guru, ibu/ayah, istri/suami, dan lain-lain, kita juga harus ingat akan kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri. Kita memerlukan waktu untuk menenangkan hati dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang kita sukai, seperti menonton, memasak, mendengarkan musik, dan lainnya. Luangkan waktu setidaknya di akhir pekan untuk diri sendiri, agar kita bisa memulai hari-hari kedepan dengan lebih siap dan bahagia.
Berikut tips-tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres saat bekerja :
1. Menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Hal ini dapat menenangkan pikiran kita.
2. Berjalan di area sekitar rumah atau kantor. Ketika dirasa lelah, bisa berjalan sebentar di sekitar kantor atau rumah untuk mencari udara segar.
3. Menuliskan emosi yang dirasakan di kertas. Hal ini membantu kita untuk mengkomunikasikan emosi yang dirasakan. Tuliskan apa yang dapat disyukuri atas kehidupan dan masalah yang sedang dialami.
4. Melakukan aktivitas yang disukai dalam waktu tertentu.
DAFTAR RUJUKAN
Purwanto, A., Pramono, R., Asbari, M., Hyun, C., Wijayanti, L., Putri, R., & santoso, priyono. (2020). Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar. EduPsyCouns: Journal of Education, Psychology and Counseling, 2(1), 1-12. Retrieved from https://ummaspul.e-journal.id/Edupsycouns/article/view/397
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York, USA: Springer Publishing Company.
https://www.verywellmind.com/the-stress-of-working-from-home-4141174