Browser Anda tidak mendukung JavaScript!

Klik di sini untuk lanjut

Artikel Keluarga

Batasan Itu Sehat


11 April 2022 | Caroline Anastasia, S.Psi. | 28

Batasan Itu Sehat

Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar kata “batasan”?

Mungkin ada yang menganggap itu sebagai aturan, kekangan, ketidakbebasan, tembok yang besar dan tinggi, jarak, formalitas atau mungkin bahkan ada yang tidak peduli.

 Tentu saja anggapan-anggapan di atas tidak salah. Akan tetapi, arti “batasan” adalah   ruang antara diri kita dan orang lain. Memiliki ruang antara diri kita dan orang lain adalah hal yang wajar, normal dan sehat.

Batasan memiliki tujuan yang sangat positif yaitu untuk melindungi dan menjaga diri kita agar stabil secara mental dan emosi. Batasan ini juga ternyata membentuk identitas kita sebagai satu individu yang utuh, membangun kemandirian serta tanggung jawab.

 

Lalu bagaimana Batasan ini diterapkan dalam keluarga? Apakah kita perlu membuat batasan dalam keluarga? Jawabannya, tentu saja perlu. Memiliki ruang antara diri kita dan orang lain dalam hubungan keluarga juga adalah hal yang wajar dan sehat. Anak dan orangtua perlu memiliki ruang masing-masing. Tidak perlu selalu harus bersama. Walaupun anak adalah milik orangtua, tetapi anak adalah pribadi yang juga perlu dihargai sebagai seorang individu yang punya keinginan, pendapat dan pilihannya sendiri.  Dengan begitu, setiap anggota keluarga bisa saling menerima perbedaan dan memandang setiap orang itu unik, berharga dan penting.

 

Ada beberapa jenis batasan dalam keluarga, antara lain :

  • Batasan fisik : menentukan mau memakai apa, makan apa, memiliki ruang pribadi, dll.
  • Batasan emosional : menenangkan diri di kamar, menolak sesuatu yang tidak/kurang sesuai atau diinginkan, mengkomunikasikan kebutuhan, memberikan pilihan, menghargai keputusan, dll.
  • Batasan spiritual : memberikan kepada anak kebebasan beragama diusia dewasa, menghargai waktu pribadi anak dengan Tuhannya, memilih tempat beribadah dan komunitas rohani, dll.
  • Batasan finansial : menentukan jumlah uang saku, mengijinkan anak mengatur keuangannya, kapan melepas anak secara finansial, dll.
  • Batasan seksual : anak laki-laki tidur dikamar yang berbeda dengan anak perempuan, dilarang mandi bersama antara anak laki-laki dan perempuan, mengajarkan anak siapa yang boleh menyentuhnya, dll.
  • Batasan intelektual: menghargai pendapat anak, caranya berpikir, dll.

Jadi, batasan bukan hanya sekadar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

 

Tips sederhana membuat batasan yang sehat dalam keluarga:

1. Ijinkan anak membuat pilihan dari kecil

Anak yang dari kecil diajarkan untuk menentukan pilihannya meski merupakan hal yang sederhana akan terlatih untuk membuat keputusan besar yang berani, tepat dan matang di usia remaja dan dewasa.

 

2. Hargai pilihan anak

Setelah kita mengijinkan anak mengambil keputusan, tugas kita adalah hargai keputusan anak.

Dengan kita menghargai keputusannya, kita memberikan ruang untuk anak tahu konsekuensi dari pilihannya; yang mungkin bisa baik atau kurang baik. Jika kita memiliki keputusan yang lebih baik bagi anak, komunikasikanlah hal itu sebagai pertimbangan bagi anak untuk mengambil keputusan yang lebih baik, ajak diskusi dan berpikir bersama. Jangan memaksakan keputusan kita apalagi tanpa penjelasan.

 

3. Selalu bertanya dan tidak memaksa

Mungkin tampak sepele, namun hal sederhana ini sangat penting, yakni bertanya. Jika kita ingin masuk ke dalam kamar anak dan dia ada dalam kamar, entah dengan pintu terbuka atau tertutup, ketuk dulu dan tanya apakah kita boleh masuk? Tidak langsung masuk ke kamar anak. Jika kita ingin anak bercerita kepada kita, tanya dulu apakah ia ingin bercerita kepada kita? Apakah dia ingin bercerita sekarang atau nanti? Bahkan jika ia tidak ingin bercerita, kita sebaiknya tidak memaksanya dan justru menyediakan diri kapanpun ia mau bercerita. Jika merencanakan liburan keluarga, libatkan anak dalam mengambil keputusan, tanya bagaimana pendapatnya, dsb.

 

Batasan – batasan sederhana yang dilakukan antara anak dan orangtua ini membuat anak merasa dihargai, dikasihi, diterima, dipahami serta dikenal oleh orangtuanya, sebaliknya anakpun dapat mengenal orangtuanya, melihat dan menyadari bahwa orangtua menginginkan yang terbaik bagi mereka, orangtua memahami situasi dan kondisi mereka, orangtua menghargai perbedaan, mau mengalah, mau sabar, memberikan ruang untuk salah dan belajar, serta tetap hadir dengan kasih yang sama.

 

Orangtua yang sejak awal menyadari serta menerapkan pentingnya sebuah batasan dalam keluarga artinya sedang membangun ruang yang sehat untuk setiap anggota keluarga itu dapat bertumbuh secara optimal.




Baca juga


Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!