Browser Anda tidak mendukung JavaScript!

Klik di sini untuk lanjut

Artikel Keluarga

Keluarga dan Komunikasi


23 November 2021 | Kennaldy, S.Psi., CMHA. | 22

Keluarga dan Komunikasi

Interaksi antar manusia tidak terlepas dari peranan komunikasi. Relasi yang terbangun merupakan hasil dari pola komunikasi antar manusianya. Hal yang sama terjadi juga dalam keluarga. Pola hubungan dalam keluarga amat dipengaruhi oleh cara anggotanya berkomunikasi. Contohnya, orangtua yang biasa berkomunikasi seperlunya dengan anaknya, akan membentuk pola komunikasi yang tidak mendalam. Karena hubungan yang terjalin tidak mendalam, seringkali antara orangtua dan anak saling tidak memahami perasaan dan kemauan satu sama lain.

Peran kedua belah pihak, baik orangtua dan anak, memang sama-sama pentingnya. Tetapi, sebagai pribadi yang lebih matang, orangtua harus berinisiatif dalam memulai pola hubungan yang sehat. Poin-poin dibawah ini dapat diperhatikan sebagai titik awal dalam menjalin hubungan antar orangtua dan anak yang sehat :

 

  • Selalu meluangkan waktu untuk anak setiap hari. Walaupun orangtua dan anak sama-sama sibuk, tetapi kedekatan tetap dapat terjalin apabila kita meluangkan setidaknya 10 menit untuk mengobrol dengan anak, tanpa adanya gangguan seperti televisi atau smartphone. Lebih baik lagi apabila kebersamaan ini dapat dilakukan secara rutin dalam bentuk seperti membacakan cerita untuk anak sebelum tidur atau berolahraga bersama.
  •  
  • Menjadi pendengar yang baik bagi anak. Orangtua tidak harus setuju dengan anak, tetapi orangtua dapat mendengarkan dulu isi hati anak sebelum mengoreksi atau menasihatinya. Orangtua bisa mengulangi kata-kata yang didengar dari anak, kemudian memberikan pemahaman yang benar pada anak. Kita juga harus benar-benar fokus saat mendengarkan anak.
  •  
  • Menunjukkan empati. Kita bisa menunjukkan empati kepada anak saat mereka merasa sedih atau kecewa, dengan cara memberikan pelukan atau sentuhan. Dalam kondisi tersebut, kita menghindari kata-kata yang meremehkan perasaan anak, misalnya, “Cuma masalah seperti itu saja, pasti akan selesai kok,” atau, “Mama/papa juga pernah merasakan yang lebih buruk, kamu baru seperti itu saja kok sudah sedih?”
  •  
  • Berfokus pada permasalahan, bukan anak. Misalnya apabila anak mendapatkan nilai sekolah yang kurang memuaskan, sampaikan bahwa, “Papa / mama merasa bahwa nilai matematika kamu masih bisa ditingkatkan lagi.” Dibandingkan mengatakan “Mengapa kamu bodoh sekali? Sampai pertanyaan semudah ini saja tidak bisa?”
  •  
  • Selalu menghargai anak atas usahanya, apapun hasil yang dicapai. Misalnya, meluangkan waktu untuk menonton anak yang bertanding dalam lomba / kompetisi. Apabila hasilnya belum memuaskan, orangtua dapat menekankan pada anak bahwa ia telah berusaha, dan orangtua menghargai usahanya tersebut, walaupun hasilnya belum memuaskan.

 

Perlu diingat juga, marah kepada anak adalah hal yang wajar. Namun demikian, untuk menghindari rusaknya hubungan, kemarahan orangtua harus dikomunikasikan secara baik. Saat kita marah pada anak, tarik napas dalam-dalam, kemudian tenangkan diri dengan menghindari bertemu anak selama lima menit. Setelah itu, orangtua harus mengomunikasikan kemarahannya pada anak dengan jelas, beritahukan alasan mengapa orangtua marah, dan bahwa yang dilakukan anak adalah salah. Seperti yang telah disinggung diatas, hindari pelabelan pada diri anak. Terangkan kesalahan anak secara objektif, misalnya, “Papa/mama tidak setuju dengan cara kamu berbicara pada papa/mama, seharusnya kamu tidak boleh berbicara seperti itu,” dibandingkan mengatakan, “Kamu anak kurang ajar ya, belajar darimana kamu berkata kasar seperti itu?”

 

Akhir kata, komunikasi yang sehat dan efektif antar anggota keluarga, khususnya orangtua dan anak, merupakan sesuatu yang wajib diusahakan agar orangtua mampu menjalin hubungan yang lebih baik dengan anak.




Baca juga


Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!