23 November 2021 | Kennaldy, S.Psi., CMHA. | 22
Interaksi antar manusia tidak terlepas dari peranan komunikasi. Relasi yang terbangun merupakan hasil dari pola komunikasi antar manusianya. Hal yang sama terjadi juga dalam keluarga. Pola hubungan dalam keluarga amat dipengaruhi oleh cara anggotanya berkomunikasi. Contohnya, orangtua yang biasa berkomunikasi seperlunya dengan anaknya, akan membentuk pola komunikasi yang tidak mendalam. Karena hubungan yang terjalin tidak mendalam, seringkali antara orangtua dan anak saling tidak memahami perasaan dan kemauan satu sama lain.
Peran kedua belah pihak, baik orangtua dan anak, memang sama-sama pentingnya. Tetapi, sebagai pribadi yang lebih matang, orangtua harus berinisiatif dalam memulai pola hubungan yang sehat. Poin-poin dibawah ini dapat diperhatikan sebagai titik awal dalam menjalin hubungan antar orangtua dan anak yang sehat :
Perlu diingat juga, marah kepada anak adalah hal yang wajar. Namun demikian, untuk menghindari rusaknya hubungan, kemarahan orangtua harus dikomunikasikan secara baik. Saat kita marah pada anak, tarik napas dalam-dalam, kemudian tenangkan diri dengan menghindari bertemu anak selama lima menit. Setelah itu, orangtua harus mengomunikasikan kemarahannya pada anak dengan jelas, beritahukan alasan mengapa orangtua marah, dan bahwa yang dilakukan anak adalah salah. Seperti yang telah disinggung diatas, hindari pelabelan pada diri anak. Terangkan kesalahan anak secara objektif, misalnya, “Papa/mama tidak setuju dengan cara kamu berbicara pada papa/mama, seharusnya kamu tidak boleh berbicara seperti itu,” dibandingkan mengatakan, “Kamu anak kurang ajar ya, belajar darimana kamu berkata kasar seperti itu?”
Akhir kata, komunikasi yang sehat dan efektif antar anggota keluarga, khususnya orangtua dan anak, merupakan sesuatu yang wajib diusahakan agar orangtua mampu menjalin hubungan yang lebih baik dengan anak.